Rabu, 08/09/2010 - 13:12
SOREANG, (PRLM).-Peraturan bupati (Perbup) No. 43/2010 sebagai penjelasan Perda No. 7/2008 mewajibkan siswa SD, SMP, dan SMA masuk ke Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT). Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi harus mengantongi ijazah MDT.
"Misalnya, lulusan SD kalau akan melanjutkan ke SMP/MTs harus melampirkan ijazah MDT. Sedangkan bagi siswa luar Kab. Bandung yang akan melanjutkan ke sekolah di Kab. Bandung harus melampirkan surat keterangan dari Musyawarah Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah (MKDT)," kata Kepala Kemenag Kab. Bandung, H. Cecep Kosasih, di ruang kerjanya, Rabu (8/9).
Menurut Cecep, siswa harus masuk MDT Awaliyah dan siswa SMP ke MDT wustha, sedangkan SMA/SMK wajib ke MDT ulya. "Pedoman pelaksanaan MDT sudah ada di Kemenag tinggal sosialisasi dan penataan organisasi MDT," katanya.
Sedangkan siswa MI, MTs, dan MA tidak diharuskan mengikuti MDT karena pelajaran agamanya sudah banyak.
"Mata pelajaran MDT semuanya pelajaran agama seperti Akidah dan Akhlak, Fiqh, Alquran dan Hadis, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab. Semua pelajaran itu sudah diajarkan di MI, MTs, dan MA," katanya.(A-71/kur)***
Nasihat Abu bakar r.a terhadap Umar Ibn Khaththab di detik-detik akhir kehidupannya:
“Ketahuilah, Allah Azza wa Jalla punya hak di siang hari dan hak itu tidak Dia terima di malam hari.
Ketahuilah, Allah Azza wa Jalla juga punya hak di malam hari dan Dia tidak menerimanya di siang hari.
Ketahuilah, shalat sunnah tidak diterima hingga Anda mengerjakan shalat wajib.
Ketahuilah, Allah Azza wa Jalla menyebutkan penghuni surga dengan perbuatan terbaik mereka, lalu tiba-tiba ada orang berkata, ‘Bagaimana amalku bisa sejajar dengan amal mereka?’ Itu terjadi, sebab Allah mengampuni kesalahan perbuatan mereka dan tidak mencelanya.
Ketahuilah, Allah Azza wa Jalla menyebutkan penghuni neraka dengan perbuatan paling buruk mereka, lalu tiba-tiba ada orang berkata, ‘Perbuatanku lebih baik dari perbuatan mereka’. Itu terjadi, karena Allah Azza wa Jalla menolak perbuatan mereka yang paling baik dan tidak menerimanya.
Ketahuilah, Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat tentang kemakmuran bersamaan dengan ayat tentang kesusahan, dan ayat tentang kesusahan bersamaan dengan ayat tentang kemakmuran, agar orang mukmin menjadi orang yang berharap (kepada rahmat Allah) dan takut (siksa-Nya), lalu ia tidak membawa dirinya pada kebinasaan dan hanya mengharapkan kebaikan kepada-Nya.
Ketahuilah, timbangan orang yang berat timbangannya itu berat karena mereka di dunia mengikuti kebenaran. Itulah rahasia kenapa timbangan mereka menjadi berat.
Ketahuilah, timbangan orang yang ringan timbangannya itu ringan karena mereka dulu di dunia mengikuti kebatilan. Itulah penyebab timbangan mereka menjadi ringan.
Jika Anda menerima wasiatku ini, maka tidak ada sesuatu yang paling Anda cintai selain kematian dan Anda pasti suatu hari nanti berhadapan dengannya. Jika Anda menyia-nyiakan wasiatku ini, maka jangan ada urusan ghaib yang lebih Anda benci daripada kematian” (Washaya Al Ulama’i, Ar Rib’i, hal 35)
Ketahuilah, Allah Azza wa Jalla juga punya hak di malam hari dan Dia tidak menerimanya di siang hari.
Ketahuilah, shalat sunnah tidak diterima hingga Anda mengerjakan shalat wajib.
Ketahuilah, Allah Azza wa Jalla menyebutkan penghuni surga dengan perbuatan terbaik mereka, lalu tiba-tiba ada orang berkata, ‘Bagaimana amalku bisa sejajar dengan amal mereka?’ Itu terjadi, sebab Allah mengampuni kesalahan perbuatan mereka dan tidak mencelanya.
Ketahuilah, Allah Azza wa Jalla menyebutkan penghuni neraka dengan perbuatan paling buruk mereka, lalu tiba-tiba ada orang berkata, ‘Perbuatanku lebih baik dari perbuatan mereka’. Itu terjadi, karena Allah Azza wa Jalla menolak perbuatan mereka yang paling baik dan tidak menerimanya.
Ketahuilah, Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat tentang kemakmuran bersamaan dengan ayat tentang kesusahan, dan ayat tentang kesusahan bersamaan dengan ayat tentang kemakmuran, agar orang mukmin menjadi orang yang berharap (kepada rahmat Allah) dan takut (siksa-Nya), lalu ia tidak membawa dirinya pada kebinasaan dan hanya mengharapkan kebaikan kepada-Nya.
Ketahuilah, timbangan orang yang berat timbangannya itu berat karena mereka di dunia mengikuti kebenaran. Itulah rahasia kenapa timbangan mereka menjadi berat.
Ketahuilah, timbangan orang yang ringan timbangannya itu ringan karena mereka dulu di dunia mengikuti kebatilan. Itulah penyebab timbangan mereka menjadi ringan.
Jika Anda menerima wasiatku ini, maka tidak ada sesuatu yang paling Anda cintai selain kematian dan Anda pasti suatu hari nanti berhadapan dengannya. Jika Anda menyia-nyiakan wasiatku ini, maka jangan ada urusan ghaib yang lebih Anda benci daripada kematian” (Washaya Al Ulama’i, Ar Rib’i, hal 35)
Oleh: Prof. Dr. H. Maragustam, M.A. dan Drs H Mangun Budiyanto, MSI
| ASPEK-ASPEK | PENDIDIKAN BARAT | PENDIDIKAN ISLAM |
| Proses Belajar Mengajar | Karena sekularistik-materialistik, maka motif dan objek belajar-mengajar semata-mata masalah keduniaan | Aktivitas belajar-mengajar ialah amal ibadah, berkaitan erat dengan pengabdian kepada Allah |
| Tanggungjawab belajar mengajar | Semat-mata urusan manusia | Disamping tanggungjawab kemanusiaan, juga tanggungjawab keagamaan. Karena dalam belajar mengajar, terdapat hak-hak Allah dan hak-hak makhluk lainnya pada setiap individu, khususnya bagi orang yang berilmu |
| Kepentingan Belajar | Belajar hanyalah untuk kepentingan dunia, sekarang dan di sini | Belajar tidak hanya untuk kepentingan hidup dunia sekarang, tetapi juga untuk kebahagiaan hidup di akhirat nanti |
| Konsep Pendidikan | Barat pada umumnya tidak mengaitkan pendidikan dengan pahala dan dosa. Ilmu itu bebas nilai (values free). | Islam mengaitkannya dengan pahala dan dosa karena kebajikan dan akhlak mulia merupakan unsur pokok dalam pendidikan Islam. |
| Tujuan Akhir Pendidikan | Hidup sejahtera di dunia secara maksimal baik sebagai warga Negara maupun sebagai warga masyarakat. | Terwujudnya insan kamil (manusia sempurna dan paripurna), yang pembentukannya selalu dalam proses sepanjang hidup (has a beginning but not an end). |
PERBEDAAN ANTARA PENDIDIKA
Diniyah Takmiliyah adalah lembaga pendidikan Islam yang telah dikenal sejak lama bersamaan dengan masa penyiaran Islam di Nusantara. Pengajaran dan pendidikan Agama Islam timbul secara alamiah melalui proses akulturasi yang berjalan secara halus, perlahan dan damai sesuai kebutuhan masyarakat sekitar. Pada masa perjalanan hampir pada semua desa yang penduduknya mayoritas beragama Islam, terdapat Madrasah Diniyah (Diniyah Takmiliyah), dengan nama dan bentuk yang berbeda-beda, yang pada umumnya meliputi akidah,ibadah, akhlak, membaca Al-Qur'an dan Bahasa Arab. Penyelenggaran Madrasah Diniyah (Diniyah Takmiliyah)biasanya mendapat dukungan dan bantuan dari masyarakat setempat.
Seiring denagan munculnya ide-ide pembaruan pendidikan agama, Madrasah Diniyah (Diniyah Takmiliyah) pun ikut serta melakukan pembaruan dari dalam. Beberapa organisasi penyelenggara Madrasah Diniyah (Diniyah Takmiliyah) melakukan modifikasi kurikulum yang dikeluarkan Departemen Agama, namun di sesuaikan dengan kondisi lingkungannya, sedangkan sebagian Madrasah Diniyah (Diniyah Takmiliyah) menggunakan kurikulum sendiri menurut kemampuan dan persepsinya masing-masing.
Langganan:
Komentar (Atom)


